Fakta Tersembunyi Dibalik Proyek Rehabilitasi D.I. Air Pangi 2020 || Kab. Lahat, Sumatera Selatan

SuaraLahat – Proyek Dam Irigasi Sungai Pangi tengah menjadi pembicaraan hangat ditengah masyarakat Marga Ex. PS.Pangi Kec. Kikim Selatan, Kab. Lahat, Sumatera Selatan.

Pasalnya proyek ini dimulai sejak tahun 2006 silam dan dilakukan rehabilitasi hampir setiap tahun dengan anggaran milyaran rupiah, namun bangunan tersebut tidak memberikan manfaat kepada masyarakat khususnya petani dari 7 desa di Marga Ex.PS. Pangi.

Awal mula dibangun pada tahun 2006 dengan dana ± 12 milyar, kemudian pembangunan dilanjutkan pada tahun 2007 dengan dana 2,4 milyar Namun bangunan Dam Irigasi Air Pangi hanya bertahan sampai akhir tahun 2009.

Kemudian direhabilitasi pada tahun 2010 dengan dana 1 milyar rupiah namun kembali rusak dan dilakukan kembali rehabilitasi bangunan pada tahun 2012 dengan dana Rp. 1.448.600.000 yang dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Prov. Sumsel dengan pemenang tender CV. ZA. JAZMINE.

Pada tahun 2013 bangunan Dam Irigasi Air pangi kembali rusak, maka pada tahun 2014 dilakukan kembali Peningkatan dan Rehabilitasi Dam Irigasi Air Pangi dengan dana Rp. 2.750.000.000 yang kali ini dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Prov. Sumsel dengan pemenang tender PT. Puting Marga, dan belum sampai 1 kali musim panen bangunan yang telah di rehabilitasi dengan dana Rp. 2.750.000.000 hancur dan rusak.

Kemudian dilakukan Pemeliharaan Sungai D.I. Air Pangi pada tahun 2015 oleh Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Prov. Sumsel dengan pemenang tender CV.PUTRA LENGKAYAP senilai Rp 267.145.000 dan Review Desain D.I. Air Pangi pada tahun 2018 oleh PEMERINTAH DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN (DINAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR) dengan pemenang tender CV.MOHEM dengan anggaran dan Rp 231.020.000.

Setelah dilakukan beberapa tahapan pembangunan dan pemeliharaan dari tahun 2006 – 2018, kembali dilakukan Rehabilitasi Dam Irigasi Air Pangi pada tahun 2019  yang dikerjakan oleh PEMERINTAH DAERAH PROVINSI SUMATERA SELATAN (DINAS PENGELOLAAN SUMBERDAYA AIR) dengan pemenang tender  CV. Tiara Sukses dengan anggaran senilai Rp. 8.997.000.000 namun Rehabilitasi tersebut tidak berfungsi dan tidak memberikan manfaat bagi petani sawah Marga Ex. PS. Pangi (7 Desa, Desa Karang Cahaya,  Desa Pagardin, Desa Nanjungan, Desa Pulau Beringin, Desa Tanjung Kurung, Desa Keban Agung dan Desa Pandan Arang).

Berdasarkan hasil Investigasi lapangan Tim Badan Penelitian Aset Negara “Aliansi Indonesia” (BPAN-AI) di TKP proyek Rehabilitasi Dam Irigasi Sungai Pangi, terindikasi adanya penyimpangan fisik bangunan pada Pembangunan Dam Irigasi dan Siring Induk untuk pengairan sawah para petani di Desa-desa marga Ex. PS. Pangi, Kec. Kikim Selatan, Kab. Lahat. Ada aroma tak sedap di balik proyek itu yang alamat pemenang tendernya tidak jelas.

Tim Investigasi BPAN-LAI mengendus adanya dugaan penyimpangan dalam proses lelang pemenang tender proyek Rehabilitasi Dam Irigasi Sungai Pangi yang dimenangkan oleh CV Tiara Sukses dengan nilai sebesar Rp 8.847.562 799.85 yang menggunakan anggaran Provinsi Sumatera Selatan.

Saat ditelusuri, alamat perusahaan itu pun tidak jelas. Berdasarkan data yang dihimpun dari situs informasi lelang proyek Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Provinsi Sumatera Selatan, CV. Tiara Sukses beralamat di Jalan Ki Gede Ing Suro no.267 Rt.28 Rw.05 Palembang. 

Namun ketika disambangi ke alamatnya, ternyata tidak ditemukan perusahaan tersebut, alamat itu ternyata berupa masjid yang berada di pemukiman padat dan masyarakat sekitar pun tidak pernah mendengar adanya nama perusahaan CV. Tiara Sukses di daerah tersebut. 

Dari penelusuran yang dilakukan oleh Tim Investigasi BPAN-LAI ditemukan data dan fakta bahwa pekerjaan D.I. Air Pangi 2019 ada yang dialihkan pekerjaannya oleh kontraktor pemenang tender CV. Tiara Sukses kepada Kades Desa Keban Agung Fitra Juanda. Hal ini diperkuat degan ditemukannya berita acara surat permohonan pembangunan tembok penahan banjir yang ditanda tangani oleh Pjs. Kades Desa Pandan Arang Herdi Herwanto dan surat persetujuan permohonan dari pihak Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Dinas Pengelolaan Sumberdaya Air) yang ditanda tangani oleh Pejabat Pelaksana Teknis Kegiatan (PPTK) Mery Miardi.

Pada implementasinya pekerjaan tembok penahan dan rehabilitasi dam irigasi air pangi 2019 ini dikerjakan oleh Kepala Desa Keban Agung yaitu Fitra Juanda, hal ini diperkuat dengan adanya bukti surat perjanjian hutang piutang sisa pekerjaan  antara Pihak CV. Tiara Sukses (Yudi) dengan Kepala Desa, Desa Keban Agung (Fitra Juanda). Bahwa sebelum pihak CV. Tiara Sukses melunasi Hutang, maka Kepala Desa, Desa Keban Agung menyita 1 Unit alat berat excavator.

SIKAP DAN PERNYATAAN YANG KONTRADIKTIF

Dari polemik kejadian tersebut, redaksi suaralahat.com berkesempatan untuk mewawancarai Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Desa Keban Agung, Mirwan Sayuti dan Kepala Desa Nanjungan yang sekaligus menjabat sebagai Ketua Forum Kades Kec. Kikim Selatan, Iswandi.

Dalam program “Dialektika Desa” yang tayang di channel youtube suaralahat.com keduanya menjelaskan beberapa hal terkait proyek D.I. Air Pangi.

Mirwan Sayuti mengungkapkan dalam program “Dialektika Desa” bahwa pelaksanaan dari pembangunan Dam Irigasi Sungai Pangi seperti ada unsur kesengajaan dibuat amburadul, sehingga Dam Irigasi Sungai Pangi tidak berfungsi hingga saat ini.

“pelaksanaan dari pembangunan Dam Irigasi Sungai Pangi seperti ada unsur kesengajaan dibuat amburadul, jadi kami merasa dirugikan sebagai petani pemakai air karena kami ditinggalkan bangunan yang tidak berfungsi sama sekali, sampai sekarang kami masih mengandalkan cara nenek moyang kami untuk menyelamatkan persawahan kami” ungkap Mirwan Sayuti.

Mirwan Sayuti beranggapan bahwa dari 2006 hingga saat ini kami sebagai petani tidak pernah merasakan manfaat dari pembangunan Dam Irigasi Sungai Pangi yang dikerjakan oleh Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan (Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air), sehingga menurut beliau proyek Dam Irigasi Sungai Pangi hanya jadi lahan korupsi yang membuat para petani Marga Ex. PS. Pangi menjadi sengsara.

Dilain kesempatan, pada program yang sama kami mewawancarai Kepala Desa Nanjungan sekaligus Ketua Forum Kades Kec. Kikim Selatan, Kab. Lahat, Sumatera Selatan, Iswandi.

Iswandi mengungkapkan beberapa permasalahan terkait Desa Nanjungan dan desa-desa lainnya yang masuk diwilayah Marga ex. PS. Pangi.

Ketika kami menanyakan apa langkah konkret Pemerintah Desa Nanjungan dalam meningkatkan perekonomian di Desa Nanjungan, Iswandi selaku Kepala Desa menjelaskan beberapa hal.

Iswandi mengatakan bahwa salah satu yang paling berpotensi meningkatkan perekonomian desa adalah sektor pertanian, Iswandi mengklaim bahwa Desa Nanjungan memiliki lahan pertanian yang sangat luas namun belum bisa dimanfaatkan secara efektif karena terkendala permasalahan air, permasalahan ini adalah dampak dari rusak dan tidak berfungsinya bangunan Dam irigasi Sungai Pangi, padahal sudah berulang kali direhabilitasi.

Pada saat diwawancarai bangunan Dam irigasi Sungai Pangi terkahir direhabilitasi pada tahun 2019 yang menelan anggaran hampir 9 Milyar Rupiah. Iswandi kembali melanjutkan bahwa akibat bangunan yang rusak dan tidak berfungsi para petani sering mengalami paceklik, inilah faktor yang menyebabkan sulitnya meningkatkan perekonomian di desa Nanjungan maupun desa lainnya yg masuk wilayah Marga Ex. PS Pangi.

Alhasil salah satu cara yang bisa dilakukan adalah kembali ke cara nenek moyang dengan membuat irigasi manual dengan cara gotong royong, masyarakat sangat kecewa terkait bangunan Dam Irigasi Sungai Pangi yang rusak dan tidak berfungsi padahal uang rakyat yang digunakan dalam pembangunan dan pemeliharaan bangunan tersebut sudah milyaran rupiah, namun tidak memberikan manfaat sama sekali untuk masyarakat.

Namun ada fakta mengejutkan yang ternyata terdapat kontradiktif dari pernyataan dan sikap Mirwan Sayuti dan Iswandi, Kisruh tentang permasalahan proyek Rehabilitasi D.I. Air Pangi 2019 belum usai, kini muncul polemik baru pada proyek Rehabilitasi D.I. Air Pangi 2020.

Proyek Rehabilitasi D.I. Air Pangi 2020 yang tendernya dimenangkan oleh PT. Daffa Rayyan Jaya Perkasa dengan anggaran senilai Rp 4.896.036.912,71 itu, justru tidak dikerjakan oleh PT. Daffa Rayyan Perkasa Jaya melainkan dialihkan pekerjaan kepada Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Desa Keban Agung, Kec. Kikim Selatan, Kab. Lahat, Sumatera Selatan.

Dari info yang kami himpun, PT. Daffa Rayyan Jaya Pekasa melakukan negosiasi untuk mengalihkan tanggung jawab pekerjaan Rehabilitasi D.I. Air Pangi 2020 kepada Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Desa Keban Agung pada bulan September tahun 2020.

Hasil negosiasi tersebut adalah PT. Daffa Rayyan Jaya Perkasa mengalihkan tanggung jawab pekerjaan proyek Rehabilitasi D.I. Air Pangi 2020 kepada Ketua Perkumpulan Petani Pemakai Air (P3A) Desa Keban Agung dengan anggaran senilai Rp 2.350.000.000 dari total anggaran tender senilai Rp 4.896.036.912,71.

Hasil perjanjian negosiasi tersebut telah di Akta Notariskan di Notaris/PPAT Trisia Susanti, SH.,M.Kn. Kabupaten Lahat. Dengan garis besar isi perjanjian kerjasamanya adalah Rachmad Firdaus (PT. Daffa Rayyan Jaya Perkasa) dan Mirwan Sayuti (Ketua P3A Keban Agung) sepakat akan melakukan kerjasama untuk pembangunan saluran irigasi sungai pangi di desa Pandan Arang, Kec. Kikim Selatan, Kab. Lahat, Sumatera Selatan. Dengan Anggaran senilai Rp 2.350.000.000.

Peralihan tanggung jawab pekerjaan ini bertentangan dengan aturan terbaru Peraturan  Presiden Nomor 16 tahun 2018 dan Pasal 36 Ayat (3) KEPPRES Nomor 80 Tahun 2003 yang mengatur bahwa Pengguna barang/jasa menerima penyerahan pekerjaan setelah seluruh hasil pekerjaan dilaksanakan sesuai dengan kontrak. Serta Pasal 32 Ayat (3) KEPPRES Nomor 80 Tahun 2003 yang mengatur bahwa Penyedia barang/jasa dilarang mengalihkan tanggung jawab seluruh pekerjaan utama dengan mensubkontrakkan kepada pihak lain. Ada konsekuensi atau sanksi yang dapat dijatuhkan kepada pihak penyedia, apabila tidak mengikuti ketentuan yang telah ditetapkan.

Terlihat dari foto diatas bahwa beberapa pejabat di wilayah Marga Ex. PS. Pangi terlibat dalam peralihan pekerjaan D.I. Air Pangi, yang dialihkan kepada Ketua P3A Mirwan Sayuti, dan saksi-saksi dalam perjanjian tersebut antara lain: Iswandi (Kades Nanjungan), Alpian (Kades Pandan Arang), Kasmin Winarno (Kades tanjung Kurung), Fitra Juanda (Kades Keban Agung) dan tentunya Pihak Kontraktor pemenang tender PT Daffa Rayyan Jaya Perkasa yang diwakili oleh Rachmad Firdaus.

AMBRUKNYA TEMBOK SALURAN IRIGASI

Proyek D.I. Air Pangi 2020 diresmikan pada bulan Januari lalu oleh beberapa tokoh dan pejabat di Marga Ex. PS. Pangi, Kec. Kikim Selatan, antara lain Lion Faizal, SE.,MM (Anggota DPRD Kab. Lahat Dapil V), Iswandi (Kepala Desa Nanjungan), Mirwan Sayuti (Ketua P3A Desa Keban Agung), Alpian (Kepala Desa Pandan Arang), Andi Sutrawinoto (Anggota Gemacita) serta beberapa tokoh lainnya.

Kerusakan terjadi pada tembok saluran irigasi yang ambruk, ketika Wartawan Suaralahat.com meninjau lokasi bangunan, terlihat puluhan meter tembok saluran irigasi roboh. Hal itu diduga karena bangunan tidak memiliki pondasi, Hal ini membuat masyarakat bertanya-tanya, apakah pembangunan ini dikerjakan dengan standar yang semestinya?

Dari kejadian peralihan pekerjaan proyek Rehabilitasi D.I. Air Pangi 2020 oleh kontraktor pemenang tender PT DAFFA RAYYAN JAYA PERKASA kepada Mirwan Sayuti (Ketua P3A) dan ambruknya tembok saluran irigasi, ada sikap dan pernyataan yang kontradiktif dari Mirwan Sayuti (Ketua P3A) dan Iswandi (Kades Nanjungan/Ketua Forum Kades Kikim Selatan).

Saat diwawancara di program “Dialektika Desa” keduanya mengkritik keras pihak otoritas dalam hal ini Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Prov. Sumsel, karena uang rakyat yang digunakan untuk pembangunan dan pemeliharaan D.I. Air Pangi tidak bermanfaat untuk masyarakat dan terkesan membuang uang rakyat, serta sengaja membuat bangunan amburadul dan hanya dijadikan lahan korupsi.

Namun faktanya, baik Mirwan Sayuti maupun Iswandi, mereka terlibat dalam permainan proyek Rehabilitasi D.I. Air Pangi 2020. mereka bekerjasama dengan pihak kontraktor PT DAFFA RAYYAN JAYA PERKASA dan pihak Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Prov. Sumsel dalam memainkan uang negara untuk kepentingan pribadi mereka para pihak yang terlibat. Dan mengerjakan bangunan D.I. Air Pangi dengan kualitas yang buruk, karena baru 2 bulan diresmikan bangunan tersebut telah ambruk.

Terlihat jelas bahwa apa yang diungkapkan oleh Mirwan Sayuti dan Iswandi dalam program “Dialektika Desa” hanya bualan belaka dan hanya untuk pencitraan publik, karena sikap dan pernyataan mereka berbeda atau kontradiktif dengan apa yang mereka lakukan dilapangan. (Aa)