Permainan Proyek Kembar Ala Dinas PSDA Sumsel

SuaraLahat – Irigasi merupakan salah satu faktor penting dalam produksi padi sawah. Irigasi sebagai sumber bagi ketersediaan air untuk pertumbuhan tanaman padi. Persedian air yang mencukupi tentu sangat berpengaruh dalam peningkatan produksi padi sawah.

Dalam bidang pertanian irgasi sangat vital bagi petani, karena irigasi adalah nafas bagi sawah mereka, tentunya pemerintah memberikan bantuan untuk menunjang ekonomi petani sawah lewat pembagunan infrastruktur yang dapat meningkatkan kualitas dan produktifitas pertanian, salah satunya pembangunan irigasi, namun apa jadinya jika pembangunan irigasi yang seharusnya berfungsi untuk membantu para petani sawah dalam meningkatkan kualitas dan produktifitas sawah mereka  menjadi lahan korupsi bagi mereka yang punya kepentingan pribadi, dan memperkaya diri sendiri.

Di Provinsi Sumatera Selatan sendiri bobroknya pembangunan irigasi sudah menjadi rahasia umum, pembagunan yang dikerjakan oleh Dinas Pekerjaan Umum Pengairan Prov. Sumsel dan Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Sumsel ini di beberapa daerah tidak berfungsi dan tidak memberikan manfaat bagi para petani sawah. Padahal kalau dilihat dari jumlah anggaran yang digelontorkan sangat fantastis, dari fakta tersebut timbul pertanyaan digunakan untuk apa dana tersebut? apakah semua proyek irgasi adalah permainan belaka?

Pada tahun 2019 terdapat 2 pekerjaan irgasi yang janggal, pekerjaan ini dikerjakan oleh Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Sumsel, yaitu proyek Rehab. D.I. Air Deras I dan Rehabilitasi D.I. Air Pangi, kedua pembangunan tersebut mendapat kucuran dana masing-masing senilai 9 Milyar Rupiah.

Gambar informasi tender Rehab D.I. Air Deras I 2019
Gambar papan informasi proyek Rehabilitasi D.I. Air Pangi 2019
Gambar Rehab D.I. Air Deras I 2019

Bersumber dari klikanggaran.com, Rehab D.I. Air Deras I Secara kasat mata, pekerjaan rehab bangunan irigasi senilai Rp8,9 milyar itu disinyalir tanpa mengunakan batu pasangan, dan adukan muda (banyak pasir ketimbang semen), sementara di titik pekerjaan bangunan baru, untuk pasangan batu kali hanya menempel di tanah tanpa digali terlebih dahulu dan tanpa ada pondasi. Selain itu, saat dimulainya pekerjaan terlihat tidak ada lantai kerja (lantai mengaduk semen), dan terdapat batangan kayu patah dalam bangunan irigasi yang sengaja dicor. Nestafa akan hal tersebut, proyek yang baru diselesaikan itu diduga tanpa pondasi, sehingga mengakibatkan ambruk/amblas.

Kejadian ini menyerat beberapa nama pejabat terkait yaitu, Meri Miardi (PPK), Hendri Jumerson (PPTK), dan Dharma Budhi (Kepala DInas PSDA), dikutip dari laman media linggauupdate.com.

Diketahui, kegiatan rehab irigasi di Kab. Musi Rawas itu dibiayai oleh APBD DInas PSDA Sumsel senilai 9 Milyar Rupiah, dikerjakan oleh CV. Marinka dengan nilai kontrak sebesar 8,9 Milyar Rupiah, dalam pelaksanaanya disinyalir asal-asalan.

sebelumnya, Pejabat Pelaksanaan Teknis Kegiatan (PPTK) Hendri Jumerson, telah mencoreng korps Adhyaksa Kejaksaan, dengan mencatut nama baik seorang jaksa yang berdinas di Kejati Sumsel.

“Saya, terkait proyek rehab irigasi sudah diperiksa oleh penyidik pidsus di Kejati Sumsel, dan masalah di Kejaksaan Tinggi semua sudah clear diurus dirinya,” beber PPTK.

Mendengar pernyataan Hendri Jumerson (PPTK) itu Kepala Kejaksaan Tinggi Sumsel Berang, dan pada akhirnya Kejati mengeluarkan surat penyelidikan (Sprindik) pada proyek tersebut dan PPTK dilakukan pemeriksaan.

Gambar Pembangunan Rehab D.I. Air Deras

Kemudian proyek Rahabilitasi D.I. Air Pangi, proyek ini merupakan tanggung jawab Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Sumsel yang dikerjakan oleh CV. Tiara Sukses, namun proyek rehabilitasi tersebut amburadul, tidak berfungsi dan bermanfaat bagi petani sawah di 7 Desa Marga Ex. PS. Pangi, Kec. Kikim Selatan Kab. Lahat.

Dalam investigasi Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penelitian Aset Negara – Aliansi Indonesia (BPAN-AI), ditemukan fakta bahwa alamat perusahaan CV. Tiara Sukses yang berlokasi di Jl. Ki. Gede Ing Suro No. 267 Rt.028 RW. 005 Palembang adalah fiktif, ketika tim investigasi tersebut menyambangi lokasi, ternyata alamat tersebut adalah sebuah masjid dan tidak ditemukan tanda-tanda adanya perusahaan CV. Tiara Sukses di sekitar lingkungan alamat perusahaan.

Gambar alamat CV. Tiara Sukses yang fiktif
Gambar informasi tender Rehabilitasi D.I. Air Pangi 2019
Gambar Dam irigasi sungai pangi, satu tetespun tidak ada air mengalir
Gambar Dam irigasi sungai pangi, satu tetespun tidak ada air mengalir

Dalam proyek Rehabilitasi D.I. Air Pangi 2019, Meri Miardi ditunjuk sebagai PPTK dan dalam waktu kurang lebih bersamaan, Ia menjabat sebagai PPK dalam proyek Rehab D.I. Air Deras I.

Rehabilitasi yang menelan anggaran fantastis itu justru berbanding terbalik dengan manfaatnya, tidak ada air setetespun yang masuk untuk mengaliri sawah-sawah para petani di 7 Desa yaitu Desa Karang Cahaya,  Desa Pagardin, Desa Nanjungan, Desa Pulau Beringin, Desa Tanjung Kurung, Desa Keban Agung dan Desa Pandan Arang Kecamatan Kikim Selatan.

Yang lebih aneh lagi anggaran pembangunan Rehabilitasi Dam Irigasi Sungai Pangi tahun anggaran 2019 dengan nilai hampir 9 Milyar Rupiah, justru ada yang dialihkan ke pembangunan tembok penahan air Desa Keban Agung, yang tidak ada korelasinya dengan pekerjaan utama yakni Rehabilitasi Dam Irigasi Sungai Pangi.

Hal ini senada dengan pernyataan Pihak CV. Tiara Sukses (Yudi Gautama), dalam video berikut, Ia menyatakan bahwa sedari awal pembangunan ini sudah cacat akan kelayakannya, mulai dari tidak adanya rancang bangun, perhitungan konstruksi yang tidak jelas, dan tidak adanya pengawasan dari pihak Dinas PSDA.

Sudah jelas ada sebab pasti ada akibat, kecurigaan masyarakat bukan tanpa alasan, bahwa mungkin saja di setiap proyek-proyek yang dikelola oleh Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Sumsel ada permainan dan menjadi lahan korupsi belaka, karena fakta yang terjadi demikian adanya, pembangunan yang seharusnya untuk kesejahteraan petani sawah, justru tidak berguna bagi mereka dan kini para petani sawah di 7 Desa yaitu Desa Karang Cahaya,  Desa Pagardin, Desa Nanjungan, Desa Pulau Beringin, Desa Tanjung Kurung, Desa Keban Agung dan Desa Pandan Arang Kecamatan Kikim Selatan, mengambil inisiatif sendiri guna menyelamatkan sawah mereka dan perekonomian mereka dengan cara membuat irigasi manual secara tradisional dan gotong royong (mapak) dengan alat seadanya, sebagai masyarakat yang punya hak dari dana-dana yang telah dikeluarkan oleh Dinas Pengelolaan Sumber Daya Air Sumsel kita berhak bertanya kemanakah dana-dana infrastruktur yang seharusnya untuk masyarakat? (Aa)

Gambar gotong royong masyarakat membuat irigasi tradisional
Gambar gotong royong masyarakat membuat irigasi tradisional